Fakta dan Mitos Sejarah Bahasa Melayu: Sebuah Refleksi atas Pemikiran Prof. Emeritus Dr. James T. Collins
Dalam sebuah konten video dari channel youtube Bawa Otak Podcast terbitan UKM Pakarunding pada 3 September 2026, menghadirkan narasumber Prof. Emeritus Dr. James T. Collins (Pakar Linguistik Sejarah, Dialektologi Melayu, Leksikografi, dan Etimologi dari Universiti Kebangsaan Malaysia). Beliau membahas topik "Sejarah Bahasa Melayu, Di Antara Fakta Dan Mitos". Fokus topik mengupas sejarah asal-usul Bahasa Melayu dengan membedakan antara bukti saintifik/fakta sejarah dan mitos (Cerita Rakyat atau Legenda).
Hadirnya Prof. Emeritus Dr. James T. Collins memberikan bobot akademis yang tinggi. Penjelasannya didukung fakta sejarah, epigrafi, dan rekonstruksi etimologi Austronesia tanpa terkesan kaku. Diskusi berhasil membongkar narasi-narasi romantis atau mitos seputar kebangsawan Bahasa Melayu (seperti mitos sentralitas Malaka atau penetapan abad modern bahasa) secara ilmiah dan proporsional. Gaya dialog santai antara pembawa acara yaitu saudara Zikrul Safwan dan narasumber Prof. Emeritus Dr. James T. Collins membuat topik linguistik sejarah yang terkesan berat menjadi mudah dicerna oleh khalayak umum.
Pembahasan yang menarik dari Prof. Emeritus James T. Collins tentang sejarah bahasa Melayu yang sebenarnya dengan melihat bukti-bukti nyata (fakta), dan tidak begitu saja percaya pada cerita-cerita dongeng (mitos) yang beredar di masyarakat. Berisi penjelasan tentang perjalanan Bahasa Melayu, dari mana bahasa ini berasal, bagaimana ia tumbuh, dan bagaimana ia menyebar luas.
A. Ringkasan dan Poin-Poin Utama Pembahasan
Bahasa Melayu sangat penting karena merupakan "akar" atau cikal bakal dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia yang kita kenal sekarang. Sejak zaman perdagangan Nusantara dahulu, Bahasa Melayu sudah digunakan sebagai lingua franca (bahasa pengantar/basantara) oleh suku-suku Nusantara dengan pedagang dari Arab, Tiongkok, dan Eropa saat mereka berdagang rempah-rempah di pelabuhan Nusantara agar bisa saling mengerti.
1. Bukti Tertulis & Usia Bahasa Melayu
Sejarah suatu bahasa memerlukan bukti teks tertulis dari zamannya sebagai suatu fakta. Fakta adalah hal-hal dalam sejarah yang memiliki bukti nyata dan bisa dibuktikan oleh para ilmuwan atau ahli sejarah. Bahasa Melayu memiliki usia tertulis yang setara dengan bahasa Inggris Kuno (Old English). Prasasti Melayu Purba (Old Malay) tertua yang berhasil ditemukan berasal dari tahun 683 M di Sumatera bagian selatan (Palembang) dan Pulau Bangka, menggunakan aksara Brahmi Selatan/Pallawa. Hingga kini terdapat sekitar 32 bukti tertulis Bahasa Melayu Purba yang tersebar di Sumatera, Jawa, hingga Luzon/Manila di Filipina.
2. Peran Jalur Rempah & Lingua Franca
Perkembangan dan penyebaran Bahasa Melayu sangat erat kaitannya dengan jaringan perdagangan rempah (cengkeh dan pala) yang sudah berlangsung lebih dari 2.000 tahun di Nusantara. Bahasa Melayu digunakan sebagai lingua franca atau bahasa perantara perdagangan dan hubungan diplomatik antar-pelabuhan. Daftar kosakata bahasa Melayu tertua yang dicatat oleh bangsa Eropa ditulis oleh Antonio Pigafetta pada tahun 1522–1523 ketika berlabuh di Pulau Tidore.
3. Kesultanan Malaka dan Penyebaran Pascakekalahan
Meskipun Malaka merupakan pusat perdagangan penting, anggapan bahwa Malaka adalah satu-satunya tempat kelahiran/pengukuhan Bahasa Melayu adalah sebuah kesalahan. Namun setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, para pedagang Melayu menyebar ke pelabuhan lain seperti Makassar, Patani, Aceh, dan Jawa, yang berdampak pada perluasan penggunaan bahasa Melayu. Tokoh misionaris seperti Francis Xavier (1545) mempelajari bahasa Melayu di Malaka untuk menyebarkan agama dan pendidikan di Teluk Ambon.
4. Hubungan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia
Istilah "Bahasa Indonesia" lahir pada Sumpah Pemuda tahun 1928, namun secara linguistik berakar langsung dari Bahasa Melayu. Menurut perspektif keilmuan linguistik, perbedaan antara Bahasa Melayu Malaysia dan Bahasa Indonesia adalah perbedaan variasi dialektal. Penilaian bahwa Bahasa Indonesia lebih puitis, disebabkan oleh penggunaan bahasa resmi di Indonesia yang masih konsisten menjaga aturan struktur gramatikal/afiksasi formal serta mempertahankan kosakata klasik.
5. Pembongkaran Mitos Sejarah Bahasa
· Mitos Dewan Bahasa dan Pustaka, klaim bahwa bahasa Melayu Modern baru tercipta pada tahun 1957 merupakan mitos. Bahasa Melayu Modern telah berkembang sejak abad ke-15 hingga 16 dengan masuknya pengaruh kosakata Arab secara massif.
· Mitos Bahasa "Campur-Campur", pengaruh kata serapan dari Sansekerta, Arab, Tamil, hingga Inggris bukan tanda kelemahan, melainkan ciri khas bahasa dunia (world language) yang berkembang dinamis.
Episode podcast dari saluran UKM Pakarunding ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin memahami sejarah perkembangan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia secara objektif dan berbasis fakta keilmuan.
B. Refleksi Indonesia: Antara Akar Melayu dan Identitas Nusantara
Menyimak pemikiran Prof. James T. Collins mengingatkan kita untuk selalu berpijak pada fakta sejarah dan pendekatan saintifik dalam melihat bahasa dan budaya, alih-alih terjebak pada mitos romantis belaka. Bahasa Indonesia hari ini adalah produk dari interaksi sejarah yang panjang, perniagaan maritim Nusantara yang luas, dan kesepakatan politik yang luhur. Sejarah bahasa tidak boleh dibangun di atas kebanggaan yang berlebihan, melainkan di atas bukti yang dapat diuji. Sikap ilmiah seperti ini justru memperkuat martabat Bahasa Melayu sebagai akar Bahasa Indonesia, karena kedudukannya tidak bergantung pada mitos, tetapi pada jejak sejarah yang nyata.
Penjelasan Prof. James T. Collins justru memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu ruang historis utama perkembangan Bahasa Melayu, tanpa harus terjebak dalam persaingan klaim identitas antara Indonesia dan Malaysia. Menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai turunan Melayu, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki identitas nasionalnya sendiri yang tumbuh dari sejarah panjang Nusantara. Terutama berkaitan dengan cara Indonesia memahami hubungan antara Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, sejarah Nusantara, serta perkembangan identitas nasional di kawasan yang pada masa lalu belum mengenal batas-batas negara seperti sekarang.
Bagi Indonesia, fakta sejarah ini menjadi dasar untuk melihat Melayu secara lebih proporsional. Indonesia memang bukan negara yang identitas nasionalnya dibangun atas satu etnis Melayu saja. Indonesia terdiri dari ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, tradisi, dan kebudayaan yang berkembang dalam wilayah kepulauan yang sangat luas. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa Bahasa Melayu memiliki posisi penting dalam proses pembentukan Bahasa Indonesia dan sejarah komunikasi antarmasyarakat Nusantara.
Justru di sinilah letak keunikan Indonesia. Bahasa Indonesia lahir dari sebuah bahasa yang telah memiliki sejarah panjang di Nusantara, kemudian mengalami transformasi menjadi bahasa persatuan bagi bangsa yang sangat majemuk. Bahasa Indonesia bukan sekadar perubahan nama dari Bahasa Melayu. Ia merupakan hasil dari proses sejarah, politik, sosial, dan kebudayaan yang panjang. Keputusan para pemuda pada Kongres Pemuda tahun 1928 untuk menggunakan istilah Bahasa Indonesia merupakan sebuah langkah politik kebangsaan yang sangat visioner.
Refleksi ini penting karena dalam beberapa tahun terakhir, perbincangan mengenai Melayu sering kali terjebak dalam narasi persaingan identitas antarnegara. Ada kecenderungan sebagian pihak untuk menentukan siapa yang paling berhak disebut sebagai pewaris Melayu, siapa pemilik bahasa Melayu, atau negara mana yang paling berhak mengklaim warisan budaya tertentu. Padahal jika melihat fakta sejarah sebagaimana dijelaskan Prof. James T. Collins, perkembangan bahasa dan kebudayaan di Nusantara tidak sesederhana batas negara modern.
Indonesia dan Malaysia memiliki hubungan linguistik yang sangat dekat, tetapi keduanya memiliki pengalaman sejarah kebangsaan yang berbeda. Bahasa Indonesia berkembang dalam perjuangan membentuk identitas bangsa Indonesia yang plural. Bahasa Melayu Malaysia berkembang dalam konteks sejarah pembentukan negara Malaysia dan identitas kebangsaannya sendiri.
Sebagai negara dengan kekayaan sejarah dan kebudayaan yang sangat besar, Indonesia memiliki banyak narasi tentang asal-usul bangsa, bahasa, dan kebudayaan. Tidak semua narasi tersebut harus ditolak. Namun semuanya perlu ditempatkan secara proporsional antara fakta sejarah, ingatan kolektif, tradisi lisan, dan mitologi. Kesadaran ilmiah tersebut diperlukan agar Indonesia tidak perlu mengklaim bahwa seluruh sejarah Melayu adalah miliknya. Sebaliknya, Indonesia dapat menunjukkan bukti-bukti sejarah mengenai kontribusi wilayah Nusantara yang kini menjadi bagian Indonesia dalam perkembangan Bahasa Melayu.
Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M, Talang Tuwo, Kota Kapur, dan berbagai bukti lainnya merupakan bagian penting dalam sejarah perkembangan Bahasa Melayu Purba. Fakta tersebut memiliki nilai yang jauh lebih kuat daripada sekadar klaim emosional mengenai siapa yang paling berhak menjadi pemilik Melayu. Namun warisan sejarah tidak selalu harus diterjemahkan sebagai kepemilikan tunggal.
Bagi kita di Indonesia, penjelasan Prof. Collins mengenai akar Bahasa Indonesia dan pelurusan "mitos" yang beredar memberikan sudut pandang yang menyegarkan, terutama dalam membedah relasi historis antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu. Persepsi bahwa Bahasa Indonesia terdengar lebih "puitis" dan formal sangat beresonansi dengan karakteristik pembakuan Bahasa Indonesia. Berbeda dengan variasi dialektal Melayu di Semenanjung yang mungkin lebih pragmatis dalam percakapan sehari-hari, Bahasa Indonesia mewarisi dan sangat menjaga aturan struktur gramatikal, terutama dalam hal afiksasi.
Refleksi ini juga mengingatkan kita bahwa peran Nusantara dalam sejarah peradaban bahasa sangat besar. Bahasa Melayu tumbuh bukan semata-mata karena satu pusat tunggal, melainkan karena jaringan pelayaran, perdagangan, dan interaksi budaya di banyak pelabuhan. Dalam konteks Indonesia, hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa kepulauan kita sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai suku, bahasa, agama, dan kepentingan ekonomi.
Dengan demikian, refleksi terpenting bagi kita ialah bahwa Bahasa Indonesia harus dipahami sebagai warisan intelektual Nusantara yang hidup, terbuka, dan terus berkembang. Justru karena berakar pada Bahasa Melayu yang pernah menjadi basantara regional, Bahasa Indonesia memiliki kekuatan untuk mempersatukan keragaman tanpa kehilangan sejarah asal-usulnya. “Maka, memahami sejarah Bahasa Melayu secara jernih bukan hanya soal bahasa, melainkan juga soal cara kita memandang jati diri bangsa dalam bingkai besar Nusantara.”
Sumber referensi:
http://www.youtube.com/watch?v=l9b8GAlrd4k

Komentar
Posting Komentar