Langsung ke konten utama

Mengapa AI "Memilih" Bahasa Indonesia, Bukan Bahasa Melayu Malaysia?

 


 

Belakangan ini, dunia maya dihebohkan oleh fenomena unik yang melibatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT dan Gemini. Warganet Malaysia ramai-ramai mengeluhkan bahwa AI sering kali menjawab pertanyaan mereka dalam Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Melayu Malaysia.

Banyak pelajar dan pekerja Malaysia yang menggunakan AI untuk mengerjakan tugas sekolah atau keperluan kerja dalam bahasa Melayu, namun jawaban yang keluar justru mengandung kosakata dan struktur khas Bahasa Indonesia. Hal ini tentu menimbulkan rasa frustrasi dan kegaduhan di kalangan warganet Malaysia.

Frustrasi yang dirasakan pengguna AI di Malaysia itu nyata. Namun, di balik kejengkelan teknis tersebut, tersimpan diskursus sosiolinguistik dan geopolitik digital yang sangat menarik untuk dibedah. Mengapa mesin cerdas yang netral ini seolah-olah "memilih" Bahasa Indonesia? Dan apa maknanya bagi hubungan kebahasaan dua negara serumpun ini?

A. Matematika Data: Ketika Frekuensi Menjadi Pemenang

Untuk memahami fenomena ini, kita harus melepaskan kacamata emosional dan melihat cara kerja AI secara mendasar. Model bahasa besar (Large Language Models) tidak memahami bahasa seperti manusia yang memiliki kesadaran kultural. AI mempelajari bahasa murni melalui pendekatan statistik dan analisis pola dari miliaran teks yang tersimpan di internet.

Ada dua alasan utama dari sudut pandang data:

·      Jurang Demografi Digital (Volume & Corpus). Pengguna internet di Indonesia lebih dari 200 juta merupakan pengguna aktif. Sebaliknya, Malaysia berpenduduk sekitar 33 juta jiwa. Implikasinya jelas: jumlah artikel, unggahan media sosial, diskusi forum, hingga korpus berita ber-Bahasa Indonesia di internet jauh lebih melimpah dibandingkan teks berbahasa Melayu Malaysia. AI secara otomatis "disuplai" oleh data ber-Bahasa Indonesia dalam porsi yang sangat dominan.

·      Prinsip “Frequency Wins” dalam menyelesaikan “Ambiguitas”. Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Malaysia berakar dari rumpun yang sama, sehingga struktur dasarnya tumpang-tindih. Ketika AI menjumpai dua varian bahasa yang sangat mirip tanpa instruksi spesifik yang membatasi, algoritma akan secara alami memilih kata atau token dengan tingkat frekuensi kemunculan tertinggi di dalam data latihnya (training dataset). Dalam hal ini, Bahasa Indonesia menang telak secara kuantitas.

B. Struktur Bahasa Indonesia yang Ramah Komputasi (NLP-Friendly)

Selain faktor kuantitas data, kekhasan tata bahasa Indonesia menjadikannya sangat ideal untuk diproses oleh algoritma Natural Language Processing (NLP):

·      Konsistensi Fonemik dan Aksara. Bahasa Indonesia ditulis menggunakan aksara Latin tanpa diakritik (tanda baca khusus di atas huruf) dan memiliki tingkat konsistensi fonemik yang tinggi, apa yang tertulis, itulah yang diucapkan. Hal ini mempercepat tahap pra-pemrosesan data oleh mesin.

·      Sistem Afiksasi yang Teratur dan Baku. Penggunaan imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, dan konfiks) dalam Bahasa Indonesia dikodifikasikan dengan sangat tertata melalui Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI/EYD). Sebagai contoh:

* Akhiran –i: Menyatakan objek sebagai lokasi, tempat, atau sasaran yang tidak bergerak.

* Akhiran -kan: Menyatakan objek sebagai sesuatu yang dipindahkan, digerakkan, atau diberikan kepada pihak lain.

Contoh kata “ditemui” dan  “ditemukan”, yang sering membuat bingung warga Malaysia.

·      Pola SPOK yang Efektif. Aturan tata bahasa yang ketat namun fleksibel memudahkan AI dalam memetakan fungsi gramatikal (Subjek-Predikat-Objek-Keterangan) secara presisi.

C. Analisis Linguistik: Mengapa Bahasa Indonesia Bukan Sekadar "Dialek" Melayu?

 Polemik AI ini secara tidak langsung menampar balik sebagian klaim klasik dari oknum akademisi atau tokoh di Malaysia yang kerap menyatakan bahwa Bahasa Indonesia hanyalah "dialek", "bagian", atau "varian lokal" dari Bahasa Melayu.

Secara historis dan sosiolinguistik, klaim tersebut mengabaikan realitas evolusi bahasa:

Aspek Evolusi

Bahasa Melayu Malaysia

Bahasa Indonesia

Akar Historis

Tradisi Melayu Semenanjung dan Kamus Dewan

Melayu Riau-Lingga (Sumpah Pemuda 1928)

Pengaruh Luar

Dominan Bahasa Inggris dan Arab

Komposisi kaya: Belanda, Daerah (Jawa, Sunda, Minang, dll), Arab, Sansekerta, Portugis, Inggris

Sifat Kemandirian

Terikat pada konsensus kebahasaan kawasan

Tumbuh menjadi “bahasa terstandarisasi mandiri” dengan daya serap tinggi

 Evolusi selama lebih dari satu abad telah mengubah Bahasa Indonesia menjadi entitas linguistik yang berdiri sendiri. Kodifikasi yang dilakukan oleh Badan Bahasa di Indonesia menghasilkan tata bahasa yang unik dan mandiri. Ketika AI diuji secara objektif berbasis data linguistik modern, AI menyimpulkan bahwa Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Malaysia adalah dua sistem ragam bahasa yang berbeda. AI tidak sedang berpolitik, ia hanya cermin objektif yang memantulkan realitas data historis dan kebahasaan modern.

D. Realitas Lapangan: Pengaruh Budaya Populer dan Dilema Edukasi

Fenomena dominasi Bahasa Indonesia di ruang AI sebenarnya sejajar dengan tren kebudayaan yang sudah berlangsung lama di kawasan Nusantara: 

1.        Penetrasi “Pop Culture” Indonesia. Konten hiburan Indonesia, mulai dari musik, film, sinetron, hingga konten kreator di TikTok dan YouTube, dikonsumsi secara masif oleh generasi muda Malaysia. Kosakata gaul, idiom, dan ragam percakapan Indonesia terserap secara organik dalam komunikasi sehari-hari di Malaysia. Bahkan, tidak sedikit publik figur dan pemengaruh (influencer) Malaysia yang secara terbuka mengagumi fleksibilitas dan kekayaan Bahasa Indonesia.

2.        Tantangan bagi Dunia Pendidikan Malaysia. Bagi para pelajar dan mahasiswa di Malaysia, keluaran (output) AI yang berbau Bahasa Indonesia menimbulkan dilema akademis. Penggunaan kata-kata yang tidak baku menurut Kamus Dewan dapat menurunkan kualitas tugas sekolah dan dinilai tidak sesuai dengan kurikulum formal. Ketergantungan pada AI tanpa proses verifikasi manual akhirnya memicu kekhawatiran tergerusnya identitas Bahasa Melayu Baku di kalangan generasi muda mereka.

E. Penutup: Menuju Perspektif yang Lebih Bijak

Fenomena AI yang lebih "fasih" ber-Bahasa Indonesia menjadikan beberapa pelajaran mendasar yang bisa kita petik:

1.      Bahasa Adalah Entitas yang Hidup. Bahasa bergerak mengikuti dinamika demografi, produksi konten, perkembangan teknologi, dan kebudayaan penuturnya.

2.      Data Memerlukan Pengakuan Realitas. Dominasi Bahasa Indonesia di alam digital adalah realitas matematis yang tak terbantahkan, bukan hasil konspirasi politik.

3.      Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Malaysia sudah mengalami perkembangan yang berbeda meskipun berasal dari rumpun yang sama. Malaysia seharusnya bisa merawat bahasa kebangsaan yang disesuaikan dengan demografi dan kebudayaan Malaysia masa kini.

AI yang bersifat netral dan berdasarkan data justru membantah klaim Bahwa bahasa Indonesia hanyalah bagian dari Bahasa Melayu. AI menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang berdiri sendiri. Mematahkan pernyataan yang sering dikemukakan oleh sejumlah profesor dan ahli di Malaysia:

> "Apakah ada Bahasa Indonesia?" 

> "Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu." 

> "Indonesia harus mengikuti KSBM (Kerangka Standar Bahasa Melayu) Malaysia."

Ada yang malu-malu mengakui keberadaan Bahasa Indonesia, dengan menyebut lagu-lagu dan atau karya budaya Indonesia menggunakan istilah "menggunakan bahasa Nusantara". Itu menggambarkan sebuah kata yang belum sepenuhnya mengakui namun diperhalus (euphemism) yang ambigu, sengaja menghindari pengakuan terhadap identitas linguistik Bahasa Indonesia.


 

Artikel ini dari ide penulis dan dengan bantuan data dari AI

Nang Nayoko Aji, terlahir dengan nama NAYOKO AJI di Blora Jawa Tengah nama panggilan Aji, sewaktu kecil dipanggil Nanang. Sering karena banyak teman yang namanya juga Aji jadi dipanggil Nayoko. Masa kecil sampai Lulus SMA tinggal bersama orang tua di Kelurahan yang juga merupakan Kota Kecamatan Ngawen Kabupaten BLORA. Menyelesaikan pendidikan TK, SD, SMP di Ngawen, SMA di SMAN 1 Blora tahun 1990, DIII Teknik Mesin di Universitas Diponegoro Semarang tahun 1994, S1 Teknik Mesin di Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 1997. Berbagai pengalaman kerja dijalani mulai dari mengajar di STM BHINNEKA Patebon Kendal tahun ajaran 1998/1999. Staff Umum di Perusahaan Tambak dan Pembekuan Udang PT Seafer General Foods di KENDAL tahun 1999 – 2001. Mengelola Rental dan Pelatihan Komputer di Tembalang SEMARANG tahun 2002 – 2005. Staff sampai menduduki posisi Supervisor Regional Distribution Center / Kepala Gudang Wilayah di PT Columbindo Perdana / Columbia Cash and Credit tahun 2005 sampai PT tersebut bermasalah resign tanggal 1 April 2019.

Komentar