Sejarah Nusantara sebenarnya pernah berada di bawah pengaruh imperium besar yang sama, seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Punya sejarah jalur perdagangan Nusantara yang terpadu. Wilayah yang disebut sebagai Nusantara belum mengenal sekat negara modern. Kolonialisasi yang meredefinisi batas wilayah menjadi Indonesia dan Malaysia. Akar sejarah inilah yang menjadikan Indonesia dan Malaysia mempunyai warisan budaya bersama (shared heritage) atau biasa disebut bangsa serumpun. Dari bangsa serumpun menjadikan konteks sejarah dan hubungan budaya antara Indonesia dan Malaysia sangat kompleks.
Malaysia sering kalah dalam diplomasi asal budaya karena sejarah kepulauan Indonesia lebih tua dari sejarah tanah Semenanjung. Tanah Semenanjung banyak migrasi dari pedagang suku-suku Nusantara pasca Kesultanan Malaka menjadi pusat perdagangan baru di Nusantara. Berabad-abad lalu, terjadi migrasi besar-besaran suku-suku Nusantara (seperti Jawa, Aceh, Minangkabau, Bugis, Banjar, dan lain-lain) ke Semenanjung Malaya.
Para migran ini menetap, beranak pinak, dan tetap mempraktikkan tradisi leluhur mereka di tanah baru. Inilah alasan mengapa kesenian seperti Reog (Barongan), Wayang Kulit, Gamelan, hingga kuliner Rendang tumbuh subur dan hidup dalam keseharian sebagian masyarakat Malaysia hari ini.
Batas kaku antara Indonesia dan Malaysia sebenarnya dibentuk oleh penjajah melalui traktat yang disebut Anglo-Dutch Treaty (Perjanjian Britania Raya dan Belanda) pada 17 Maret 1824. Inggris menguasai Semenanjung Malaya, sementara Belanda menguasai kepulauan Nusantara lainnya (sekarang kepulauan Indonesia). Pemisahan politik kolonial ini memisahkan masyarakat serumpun yang secara budaya masih satu ikatan.
Masalah muncul karena masyarakat pascakemerdekaan sering kali menyamakan batas wilayah politik negara (garis batas resmi) dengan batas kepemilikan kebudayaan. Padahal, kebudayaan bersifat cair dan melintasi batas-batas negara (transnational culture). Masalah klaim budaya sering terjadi karena perbedaan cara pandang mengenai batas wilayah geografis modern dan batas wilayah budaya masa lalu. Narasi Malaysia sering tidak sesuai dengan latar waktu atau zaman sejarahnya (anakronistis), yaitu mencoba menarik batas negara modern (menyebut asal/asli Malaysia) untuk mengklaim kejayaan masa lalu yang sebenarnya berpusat di wilayah Indonesia saat ini.
Narasi anakronistis Malaysia sejalan dengan adanya propaganda Konsep Alam Melayu yang mengabaikan batas-batas politik negara modern (nation-state). Dari sudut pandang historis dan geopolitik, Konsep Alam Melayu sebenarnya rapuh secara akademik jika dipakai sebagai alat propaganda. Karena tidak bisa membenarkan klaim yang menempatkan Semenanjung Malaya sebagai asal budaya/peradaban maupun pusat budaya/peradaban dari wilayah luas yang mereka sebut "Alam Melayu".
Namun, mengapa ada urgensi atau dorongan kuat dari kalangan intelektual, elite, hingga publik Malaysia untuk terus menggaungkan dan mempropagandakan konsep "Alam Melayu" ini? Secara objektif, ada beberapa urgensi strategis, politis, dan psikologis di balik masifnya narasi tersebut:
1. Legitimasi Identitas Nasional dan Hak Istimewa (Ketuanan Melayu)
Malaysia adalah negara yang multietnis (Melayu, Tionghoa, India, dan Bumiputera lainnya). Dalam konstitusi mereka (Pasal 153), etnis Melayu dan Bumiputera memiliki hak istimewa.
Urgensinya, untuk mempertahankan hak istimewa dan konsep Ketuanan Melayu dalam politik domestik, etnis Melayu di Malaysia harus membuktikan bahwa mereka adalah indigenous (penduduk asli) yang memiliki akar sejarah yang luas, mendalam, dan berdaulat di wilayah tersebut.
Menggaungkan "Alam Melayu" memberikan justifikasi moral dan historis bahwa Semenanjung bukan sekadar wilayah semenanjung kecil, melainkan bagian integral dari peradaban besar yang menguasai kepulauan ini.
2. Perasaan Rendah Diri (Inferiority Complex) Sejarah
Secara kronologi sejarah imperium besar, Semenanjung Malaya lebih sering menjadi bagian dari wilayah pengaruh (vasal) atau pelabuhan dagang, bukan pusat kekaisaran hegemonik yang menguasai seluruh kepulauan. Kesultanan Melaka yang diagungkan sebagai puncak peradaban merekapun wilayahnya terbatas dan berusia relatif pendek sebelum runtuh oleh Portugis pada 1511.
Urgensinya, ada kebutuhan psikologis kolektif untuk menyetarakan posisi sejarah mereka dengan Indonesia yang memiliki warisan Sriwijaya dan Majapahit. Dengan mengaburkan batas wilayah politik masa lalu dan menggantinya dengan istilah kultural "Alam Melayu", mereka bisa mengklaim kebesaran Sriwijaya (yang berpusat di Sumatra) atau Majapahit sebagai bagian dari warisan "Melayu" mereka juga.
3. "Melayuisasi" Konsep Nusantara
Bagi Indonesia, Nusantara adalah konsep geopolitik historis (Sumpah Palapa) yang mengerucut menjadi tanah air Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang sifatnya multi-etnis dan inklusif. Sementara di Malaysia, istilah "Nusantara" sering kali disamakan atau direduksi maknanya menjadi sekadar sinonim dari "Alam Melayu" (ranah etno-linguistik Melayu).
Urgensinya, melalui hegemoni istilah ini, Malaysia mencoba menggeser persepsi publik bahwa identitas utama kepulauan ini adalah "Melayu", bukan "Indonesia". Ini adalah bentuk soft power untuk menempatkan Malaysia sebagai juru bicara atau "kakak tua" dari peradaban kepulauan ini, terlepas dari realitas demografi dan geografis di mana Indonesia jauh lebih besar.
4. Kepentingan Geopolitik dan Bahasa di Ranah Global (ASEAN)
Ada ambisi jangka panjang untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kedua di ASEAN. Namun, Malaysia sadar betul bahwa varian bahasa Melayu mereka (Bahasa Melayu Malaysia) kalah jauh dalam jumlah penutur dibandingkan Bahasa Indonesia.
Urgensinya, dengan mempromosikan konsep "Alam Melayu", mereka mencoba membangun narasi payung besar (super-ordinate) bahwa Indonesia, Malaysia, Brunei, Tailan Selatan, dan Filipina Selatan adalah satu kesatuan peradaban yang sama. Jika narasi ini diterima, maka internasionalisasi bahasa dan budaya Melayu versi mereka akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat di panggung global.
Bagi Malaysia, propaganda "Alam Melayu" bukanlah soal akurasi peta politik masa lalu, melainkan alat politik kontemporer demi kelangsungan identitas, posisi tawar geopolitik, dan legitimasi domestik mereka.
https://scispace.com/pdf/menelusuri-akar-konflik-warisan-budaya-antara-indonesia-1vh9rxbpip.pdf
https://properti.kompas.com/read/2009/09/11/02255580/indonesia-malaysia-miliki-budaya-yang-sama
https://www.youtube.com/watch?v=atfgNsbZrw8&t=101)

Terasa cukup untuk menjadikan sebuah buku Tema Nusantara-Melayu.
BalasHapusArtikel terbaru ini sebagai "GONG" yang berisi inti akar permasalahannya.