Dalam salah satu konten Youtube dan Tik Tok dari Profesor Dr. Supyan Hussin (pakar sosiolinguistik dan kebudayaan dari Universitas Kebangsaan Malaysia/UKM) menjalaskan makna Nusantara menurut Indonesia dan Malaysia. Dalam penjelasan itu beliau menyelipkan penjelasan Konsep Alam Melayu menurut perspektif beliau dan wacana akademik di Malaysia. Sedang konsep Alam Melayu tidak ada dan tidak difahami di Indonesia.
Nusantara menurut Prof. Supyan Hussin yang umumnya difahami di Malaysia secara cakupan geografis sebenarnya sama dengan yang difahami secara sudut pandang sejarah di Indonesia, yaitu cakupan bekas wilayah teritorial Majapahit. Saat ini perspektif geopolitik modern yang diterapkan di Indonesia bahwa Nusantara itu Indonesia (Konsep Wawasan Nusantara). Sedang di Malaysia membuat Konsep Alam Melayu mengadopsi konsep Austronesia/Polinesia.
Konsep Wawasan Nusantara Indonesia dan Konsep Alam Melayu Malaysia inilah sebenarnya yang memicu perdebatan geopolitik-kultural yang sangat krusial antara netizen Indonesia dan Malaysia. “Perang Argumen” sering terjadi karena pradigma kedua konsep itu saling bertabrakan. Apalagi jika orang Malaysia sering menyebut Nusantara adalah Alam Melayu menjadikan ada semacam "keterkejutan budaya" (cultural shock) sosiologis masyarakat Indonesia.
Kedua konsep tersebut (Wawasan Nusantara dan Alam Melayu) merupakan reduksionisme makna demi kepentingan narasi nasionalisme sebuah negara (state-building), terkait geopolitik, bahasa, dan budaya. Indikator utama meliputi cakupan geografis, sudut pandang politik-sejarah, dan dominasi etnolinguistik.
Indonesia menggunakan istilah Nusantara sebagai konsep geopolitik dan ruang hidup (Wawasan Nusantara) yang menyatukan seluruh wilayah darat, laut, dan udara dari Sabang sampai Merauke dalam kesatuan NKRI. Istilah ini semakin menguat secara formal dengan ditetapkannya Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam Wawasan Nusantara Indonesia justru menyempitkan wilayah historis Nusantara menjadi hanya wilayah teritorial Indonesia masa kini. Indonesia merasa paling berhak menggunakan istilah Nusantara karena beberapa alasan. Sejarah pusat kerajaan Majapahit berada di wilayah teritorial Indonesia masa kini (Jawa). Sebagian besar wilayah Nusantara adalah teritorial Indonesia masa kini. Arti Nusantara yaitu nusa (pulau) dan antara bermakna kepulauan paling relevan dengan Indonesia masa kini yang berupa kepulauan.
Wawasan Nusantara berpijak pada realitas dekolonisasi dan pembentukan bangsa (nation-building) yang legal-rasional. Bahwa Nusantara masa lalu sudah terwujud menjadi beberapa negara yang berdaulat masa kini. Indonesia yang paling layak dan berhak mewarisi Nusantara (Baca juga artikel: Indonesia sebagai Pewaris dan Pelestari Warisan Nusantara)
Indonesia memandang kebudayaan Nusantara secara objektif-historis. Melayu adalah salah satu komponen penting dari pembentuk kebudayaan nasional, tetapi bukan satu-satunya dan bukan yang mendominasi. Suku Melayu di Indonesia berdiri setara dengan suku Jawa, Sunda, Dayak, Minang, Bugis, Papua, dan ratusan suku lainnya.
Bagi Indonesia, peradaban hari ini dibangun di atas fondasi kemajemukan nasional, bukan di bawah payung satu dominasi etnis tertentu. Keberagaman di Nusantara adalah sebuah fakta. Indonesia tidak mempermasalahkan suku mana yang ada terlebih dulu. Justru istilah Melayu itu populer pascaperdagangan di Nusantara ada, lebih khusus pascapenyebaran Islam di Nusantara. Istilah "Melayu" pada awalnya merujuk pada nama tempat atau kerajaan di Jambi, Sumatra, sekitar abad ke-7, lalu berkembang menjadi sebutan etnis.
Alam Melayu (The Malay World) bagi Prof. DR. Supyan Hussin dan sebagian besar akademisi Malaysia, adalah payung besar (super-ordinate) yang berbasis pada ikatan ras (etnis), rumpun bahasa, dan peradaban Melayu-Polinesia. Cakupan wilayah sangat luas, melampaui batas politik negara modern. Mencakup Malaysia, Indonesia, Brunei, Singapura, Filipina, Thailand Selatan (Pattani), Kamboja (Champa), hingga Madagaskar dan kepulauan Pasifik.
Definisi identitas, diikat oleh kemiripan akar bahasa (Austronesi/Melayu-Polinesia) dan adat istiadat. Dalam konteks yang lebih modern/lokal di Malaysia, identitas ini juga sering dikaitkan erat dengan pemeluk agama Islam. Sudut pandang menggunakan pendekatan kultural-antropologis lama. Dalam pandangan itu, wilayah Indonesia (Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan lain-lainnya) dianggap sebagai bagian dari lanskap besar Alam Melayu.
Pandangan itu muncul karena di dalam negeri Malaysia semua suku Nusantara disebut Melayu. Melayu di Semenanjung adalah asimilasi suku-suku dari Nusantara. Sehingga menempatkan Melayu bukan sekadar sebagai sebuah suku bangsa tunggal (sub-ordinate), melainkan sebagai ras, payung peradaban besar, dan identitas geo-kultural yang luas. Peliknya, muncul superioritas dan penyempitan makna Melayu sebagai: Melayu adalah Malaysia.
Tabel Ringkasan Perbedaan Utama dari Istilah Nusantara dan Alam Melayu
|
Faktor Pembeda |
Nusantara |
Alam Melayu |
|
Titik Tekan |
Berbasis pada geografi, politik, dan batas wilayah negara. |
Berbasis pada ras, bahasa dan etnisitas. |
|
Karakter Istilah |
Berdasar historis, lebih bersifat legai-rasional, politik modern, dan kedaulatan negara. |
Lebih bersifat kultural dan emosional (romantisme rumpun Melayu). |
|
Pusat Cara Pandang |
Berpusat pada konsep kesatuan kepulauan (Indonesia) yang multietnis. |
Seringkali berpusat dari narasi Semenanjung Tanah Melayu untuk mendominasi wilayah sekitar. |
“Perang Argumen” netizen Indonesia dan Malaysia selalu hangat karena Malaysia menggunakan kacamata "Alam Melayu" yang berbasis etno-linguistik, sehingga mereka merasa Indonesia adalah bagian dari dunia Melayu mereka. Konsep Alam Melayu mengabaikan batas-batas politik negara modern (nation-state) yang baru lahir pasca-kolonial abad ke-20. Sebaliknya, Indonesia menggunakan kacamata "Nusantara" berbasis keberagaman multietnis yang setara mematahkan argumen klaim superioritas etnis tertentu.
Dalam debat seperti ini, argumen netizen Indonesia biasanya jauh lebih kokoh karena didukung oleh data empiris lapangan yang hidup (living culture). Ketika netizen Malaysia bertahan pada romantisme masa lalu dan teks-teks klasik, netizen Indonesia menyodorkan realitas hari ini.
Contohnya dalam hal bahasa, netizen Malaysia sering menyebut bahwa Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu. Tapi faktanya Bahasa Indonesia telah berevolusi menjadi bahasa peradaban modern (bahasa sains, hukum, kedokteran, film, dan kecerdasan buatan) yang digunakan secara aktif oleh hampir 280 juta jiwa.
Indonesia telah berhasil melahirkan sebuah peradaban baru yang mandiri. Kita menghormati akar sejarah Melayu sebagai bagian dari masa lalu, namun kita tidak terjebak dalam nostalgia yang membelenggu kemajuan zaman. Nostalgia romantisme "rumpun Melayu yang sama" memang sering kali berbenturan dengan kenyataan geopolitik, sosiolinguistik, dan perkembangan zaman setelah kedua negara mengambil jalan hidup masing-masing.
https://youtu.be/ArelxHA6a5c?si=-oSM_k1dx2BO9GbG
https://www.tiktok.com/@supyan.hussin/video/7646595463159811335?is_from_webapp=1&sender_device=pc
https://nangnayokoaji.blogspot.com/2025/07/indonesia-sebagai-pewaris-dan-pelestari.html

Komentar
Posting Komentar