Setiap tahun, umat Islam dunia disuguhi "drama" penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Perbedaan pendapat antara metode rukyat (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomi), antara pendekatan lokal dan global, kerap menguras energi sosial yang seharusnya dapat dialihkan untuk hal-hal lebih substantif. Hal ini yang memunculkan gagasan membuat Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Gagasan kalender Islam global bukanlah wacana baru. Jejaknya dapat ditelusuri sejak Syekh Ahmad Muhammad Syakir pada 1939 M. Namun, momen penentu terjadi pada 28-30 Mei 2016 di Istanbul, Turki, ketika Kongres Internasional Penyatuan Kalender Hijriah mempertemukan ulama, astronom, dan pakar fikih dari 60 negara.
Dalam forum bersejarah tersebut, ada dua opsi yang dipertimbangkan:
1. Kalender Bizonal, yang membagi dunia menjadi dua zona waktu
2. Kalender Global Tunggal, dengan prinsip “satu hari, satu tanggal”
Melalui pemungutan suara, mayoritas mutlak memilih opsi kedua. Maka terbentuklah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Dengan konsensus menetapkan kriteria teknis yang menjadi fondasi KGHT yaitu : tinggi hilal minimal 5° dan elongasi minimal 8° saat matahari terbenam di mana pun di daratan bumi, dengan syarat ijtimak terjadi sebelum pukul 00.00 UTC.
Keputusan Istanbul 2016 ini diharapkan bukan sekadar rekomendasi akademis, melainkan mandat moral bagi umat Islam untuk mengakhiri fragmentasi penanggalan. Muhammadiyah, melalui Muktamar ke-47 di Makassar dan ke-48 di Surakarta, mengadopsi konsensus ini sebagai landasan resmi transisi metodologis. Diluncurkan resmi pada 25 Juni 2025 M di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Universias Aisyiyah Yogyakarta. Implementasi penuh atau mulai berlakunya penggunaan kalender KHGT ditetapkan sejak tahun baru 1 Muharram 1447 H (Kamis, 26 Juni 2025 M).
Dalam Prinsip KHGT yang diterbitkan oleh Muhammadiyah disebutkan: “Hari universal dimulai pada pukul 00.00 GMT dan berlangsung selama 48 jam di seluruh dunia (untuk satu nama hari tertentu). Permulaan hari universal berikutnya tidak terjadi saat hari universal sebelumnya berakhir, melainkan di pertengahannya”. Ini menimbulkan kerancuan dan konsep "tumpang tindih" (overlap). Juga tekait penetapan awal Ramadhan pada Rabu 18 Februari 2026. Secara hisab pada 17 Februari 2026 di Wilayah Indonesia belum ada hilal, bahkan masih minus.
KHGT mengacu pada peristiwa global memang sangat tepat. Konjungsi (ijtimak) bulan adalah peristiwa global yang terjadi di akhir bulan pada sistem tahun Qomariah (Hijriah). Namun menggunakan prinsip lokal yaitu Garis Batas Tanggal Internasional (garis bujur 180° pada tengah malam GMT), sebagai referensi pukul 00.00 UTC untuk cuttoff sudah tepatkah?
UTC (Coordinated Universal Time / Waktu Universal Terkoordinasi) yang berbasis jam atom merupakan sistem waktu yang akurat hingga milidetik. Pukul 00.00 UTC sebagai Garis batas Tanggal Internasional (bujur 180°) adalah sistem yang dipakai untuk penanggalan tahun Syamsiah (Masehi). Ini menjadi tidak selaras dengan sistem tahun hijriah, awal bulan adalah saat timbulnya hilal dan awal hari adalah saat matahari tenggelam (Maghrib).
Sistem kalender Masehi lebih sederhana dibanding sistem kalender Hijriah. Garis batas Tanggal Internasional (bujur 180°) untuk referensi pukul 00.00 (24.00) UTC dan Garis Meridian Utama (0° bujur, Greenwich) untuk referensi pukul 12.00 UTC adalah garis imajiner untuk memudahkan dimulainya hari baru di bumi dalam sistem kalender Masehi.
Kalender Masehi adalah sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari. Rotasi bumi berlawanan arah dengan jarum jam sehingga seolah matahari berjalan dari timur ke barat. Dan orbit bumi berbentuk bidang elips yang mempunyai kemiringan dari garis lintang sehingga seolah matahari bergeser ke utara berganti ke selatan sepanjang tahun. Namun dari pergeseran itu masih bisa dilihat (relatif dominan) pergeserannya dari timur ke barat.
Satu kali rotasi bumi terjadi selama 24 jam (1 hari). Satu kali orbit bumi ke matahari terjadi selama 365,25 hari (1 tahun). Dari rotasi dan orbit bumi timbul siang dan malam. Perhitungan kalender Masehi sederhana, karena siang atau malam masih kasat mata dan hanya menghitung rotasi dan orbit bumi ke matahari. Siang atau malam ini merupakan peristiwa lokal. Untuk perhitungan siang dan malam secara global, dibuat garis imajiner Batas Tanggal Internasional (bujur 180°) yang secara konvensi internasional merupakan garis referensi pukul 00.00 (24.00).
Sistem kalender Hijriah adalah sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Lebih komplek dari sistem kalender Masehi karena dalam sistem kalender Hijriah, perhitungan dari bumi berotasi dan mengorbit matahari, serta bulan mengorbit bumi. Juga bulan tidak selalu kasat mata, karena bulan hanya merefleksi dari sinar matahari. Awal bulan ditandai dengan awal hilal (penampakan bulan) pertama setelah terjadinya konjungsi (ijtimak).
Rotasi bulan bisa diabaikan dalam perhitungan karena masih selaras dengan orbitnya (hal ini juga yang menyebabkan satu sisi bulan yang menghadap ke bumi). Juga karena rotasi bulan tidak berpengaruh dengan refleksinya ke bumi. Satu kali rotasi bulan sama dengan orbitnya ke bumi memerlukan waktu 27,3 hari (sideris). Agregat dari orbit bulan (27,3 hari) dan rotasi bumi (24 jam) memerlukan waktu 29 hari 12 jam 44 menit (>29,5 hari) disebut sinodis, menyebabkan fase bulan (sabitan hingga purnama). Dalam 1 tahun Hijriah (12 bulan) menjadi 354 hari sampai 355 hari.
Penggunaan Garis Batas Tanggal Internasional (garis bujur 180° pada tengah malam GMT), sebagai referensi pukul 00.00 UTC sebagai cutoff adalah suatu kesalahan. Melewati garis bujur 180° menjadikan seakan terjadi lompat tanggal, padahal prinsip awal 1 hari yaitu 1 kali rotasi bumi (24 jam).
Konjungsi adalah peristiwa global yang bisa terjadi dimana saja dengan ritme bergilir. Ini justru peristiwa real dari agregasi orbit bulan dan rotasi bumi. Mengapa peristiwa konjungsi ini tidak dijadikan sebagai acuan cutoff dengan UTC versi kalender Hijriah?
Titik dibumi terjadinya konjungsi (zenit) bisa dibuat garis tegak lurus dari arah sinar matahari. Garis ini yang menjadi acuan cutoff real versi kalender Hijriah (pukul 00.00 UTC Hijriah). Tentu sesuai awal hari sistem kalender Hijriah adalah saat matahari tenggelam (Maghrib) dari awal kawasan munculnya hilal.
https://khgt.muhammadiyah.or.id/
https://youtu.be/htkswOtO5_A?si=2YbcAZsBx0PozWM-
https://youtu.be/r5GnTfQLo04?si=8LX2tLuWIzp4HDsI
https://www.youtube.com/live/rlPVCcplyCM?si=5hNaanBwOD4erdFd

Artikel ini menolak penggunaan Garis Batas Tanggal Internasional (garis bujur 180° pada tengah malam GMT), sebagai referensi pukul 00.00 UTC untuk cuttoff penanggalan Hijriah. Mengusulkan tempat konjungsi sebagai tempat cuttoff. Murni benar-benar global dan sesuai agegrasi bumi dan bulan sebagai acuan.
BalasHapusAda dua pendapat sejak zaman Rasulullah dulu.
BalasHapus1. Apabila suatu tempat melihat hilal maka seluruhnya puasa..
2. Ada sahabat yg sedang safar melihat hilal berbeda hari. setelah bertemu Rasulullah. puasanya sah didasarkan pada setiap tempat punya matla' sendiri2..
karena hilal yg dilihat berbeda hari...