Laa ilaaha illallaah
Muhammadar rasuulullah
Nawaitu an ukiro
Kalimataini syahadataini
Wujudto ilmu wuri
Pamarotan waqidatan
Sejatine sinembah kelawan puji
Iyo iku kang aran iman
Iyun-iyun iyun badan
Sing diniyun susahing ati
Badan siji ginowo mati
Wonten donya nglampahi dosa
Dhateng akherat dipun sikso
Ya Allah kulo nyuwun ngapuro
Pundi margine dumugi swargo
Babatono paculono
Ojo babati kudi kelawan pacul
Babatono Puji kelawan dzikir
Syair "IYUN IYUN BADAN" (sering dilafalkan Ayun-Ayun Badan) adalah salah satu bentuk puji-pujian Islami atau tembang Jawa yang biasa dilantunkan di masjid/musholla setelah azan dan sebelum iqomah salat berjamaah.
Secara umum, syair ini mengandung ajakan untuk merenungi hakikat kehidupan, pentingnya akidah (syahadat), kesadaran akan dosa, dan ajakan untuk memperbanyak zikir.
Berikut adalah penjabaran makna dari syair tersebut:
1. Landasan Akidah (Syahadat)
Laa ilaaha illallaah / Muhammadar rasuulullah
(2 kalimat syahadat, kalimat tauhid sebagai fondasi utama keimanan seorang Muslim)
Nawaitu an ukiro / Kalimataini syahadataini
(Niat saya mengukir dalam hati / 2 kalimat syahadat ini)
Wujudto ilmu wuri / Pamarotan waqidatan
(Semoga terwujud pengetahuan dibelakang / ucapan komitmen lisan diawal)
Sejatine sinembah kelawan puji / Iyo iku kang aran iman
(Sejatinya dipersembahkan dengan keagungan / yaitu yang disebut iman)
Penjelasan: Lirik ini menegaskan kembali kalimat syahadat sebagai fondasi iman. Maknanya adalah saksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Syahadat ini diucapkan sebagai wujud keyakinan hati dan diiringi kesadaran (ilmu) untuk menyembah Allah dengan pujian dan ketaatan.
2. Renungan Kematian dan Dosa
Iyun-iyun iyun badan
(Amat disayangkan badan / diri ini)
Sing diniyun susahing ati
(Yang disayangkan susahnya hati)
Badan siji ginowo mati
(Badan satu terbawa mati)
Wonten donya nglampahi dosa
(Di dunia menjalani dosa)
Dhateng akherat dipun sikso
(Di akherat akan disiksa)
Penjelasan: Bagian ini mengajak manusia untuk merenungi "badan" (diri sendiri) yang akan dibawa mati. "Sing diniyun susahing ati" berarti yang patut dikhawatirkan (disayangkan) di hati adalah nasib setelah mati. Syair ini mengingatkan bahwa dosa yang dilakukan di dunia akan berakibat siksaan di akhirat, sehingga manusia harus selalu waspada.
3. Permohonan Ampunan (Taubat) dan Ajakan Berzikir
Ya Allah kulo nyuwun ngapuro
(Ya Allah saya mohon ampun)
Pundi margine dumugi swargo
(Kemana jalan menuju surga)
Babatono paculono
(Babati/bersihkanlah dan cangkuli)
Ojo babati kudi kelawan pacul
(Jangan membabat/membersihkan pakai kudi dan cangkul)
Babatono puji kelawan dzikir
(Babati/bersihkanlah hati dengan pujian dan dzikir)
Penjelasan: Lirik ini berisi doa dan permohonan ampunan langsung kepada Allah SWT. Manusia menyadari kelemahannya dan memohon petunjuk jalan (margine) menuju surga. Dan metafora (kiasan) Jawa yang mendalam untuk "membersihkan" hati dan jiwa.
Kesimpulan:
Syair "Iyun Iyun Badan" adalah nasihat spiritual Jawa agar manusia tidak terlena dengan kehidupan duniawi, senantiasa mengingat kematian, menjaga syahadat, memohon ampunan, dan membersihkan hati dengan zikir.
Catatan :
a. Kudi (atau Kudhi), merupakan senjata tradisional atau alat bantu kerja dari Jawa (sering dikaitkan dengan Jawa Tengah/Banyumasan dan Jawa Barat) yang bentuknya kombinasi antara parang dan kapak. Ujungnya melengkung seperti sabit, tetapi bagian pangkalnya (dekat gagang) lebih lebar dan tebal seperti kapak. Kudi digunakan untuk menebang, memotong kayu/bambu, atau sebagai senjata.
b. Babat (membersihkan), biasa untuk menyebut pembersihan tanaman/semak supaya bersih atau pembukaan ladang baru.
https://youtube.com/shorts/O7LkzWn5imI?si=cHa5uZCcB8WqA6vd

Syair puji-pujian Jawa pencipta anonim yang saya coba tulis ulang.
BalasHapus