Pada awal bulan Juli 2025 yang lalu viral video seorang guru Bahasa Melayu Malaysia, yang mengungkap kejengkelan karena muridnya menggunakan bahasa Indonesia. Cikgu Gja yang memiliki nama asli Azizah memberi klarifikasi bahwa dia tidak mencela Bahasa Indonesia, bahkan menyebutnya sebagai “bahasa yang indah dan kaya akan budaya”.
Cikgu Gja merasa siswa di Malaysia perlu menggunakan Bahasa Melayu yang benar dalam ujian mereka sesuai dengan silabus sekolah Malaysia. Cikgu Gja ingin memastikan murid-murid menggunakan Bahasa Melayu baku dan sesuai dengan standar bahasa di negara tersebut. Hal ini penting untuk menjaga kelestarian bahasa Melayu Malaysia dan memastikan komunikasi yang efektif dalam konteks pendidikan. Penggunaan Bahasa Indonesia bisa dianggap tidak sesuai dengan kurikulum dan standar bahasa yang berlaku di sekolah.
Usaha Cikgu Gja itu tentunya untuk menjaga bahasa kebangsaan Malaysia. Bahasa kebangsaan adalah bahasa yang secara resmi diakui dan digunakan oleh suatu negara untuk mewakili identitas dan budayanya. Bahasa kebangsaan seringkali digunakan dalam konteks resmi seperti dalam pemerintahan, hukum, dan pendidikan, serta berfungsi sebagai alat pemersatu dan komunikasi bagi seluruh masyarakat.
Peristiwa Cikgu Gja menandakan adanya urgensi bahasa kebangsaan. Namun di Malaysia penggunaan "Bahasa Melayu" sebagai bahasa kebangsaan masih menimbulkan perdebatan. Perdebatan tentang penggunaan istilah dan perubahan beberapa kali nama bahasa kebangsaan Malaysia dari "Bahasa Melayu" menjadi "Bahasa Malaysia" dan sebaliknya, telah menimbulkan kebingungan dan berbagai pendapat di kalangan warga negara Malaysia.
Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya disebut "Bahasa Malaysia" untuk mencerminkan identitas negara yang lebih inklusif bagi semua etnis. Istilah "Bahasa Malaysia" menekankan bahwa bahasa ini adalah bahasa kebangsaan yang digunakan oleh semua warga negara Malaysia, bukan hanya orang Melayu.
Alasan utama penggunaan istilah "Bahasa Melayu" tetap dipertahankan karena alasan sejarah, identitas dan budaya. Beberapa pakar bahasa berpendapat bahwa istilah "Bahasa Melayu" lebih tepat karena bahasa ini memiliki akar budaya dan sejarah yang kuat dalam masyarakat Melayu.
Yang perlu Malaysia sadari bahwa istilah atau nama bahasa tidak akan mempengaruhi kemampuan warga negara bukan Melayu untuk menguasai bahasa tersebut. Yang seharusnya dari bahasa kebangsaan adalah bagian dari kurikulum semua sekolah dan bahasa itu digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Namun pertimbangan nama bahasa sangat berpengaruh pada standarisasi dan pengembangan bahasa tersebut selanjutnya.
Urgensi bahasa kebangsaan sangat diperlukan untuk menjaga identitas nasional dan jati diri suatu bangsa / negara. Fakta bahwa Indonesia dan Malaysia merupakan negara yang berbeda. Jadi Indonesia dan Malaysia sudah berbeda dalam pengembangan bahasa kebangsaannya masing-masing. Malaysia merasa perlu menjaga identitas bahasa kebangsaan dari hegemoni Bahasa Indonesia yang lebih dominan.
Dari peristiwa Cikgu Gja juga menandakan ternyata banyak hal inkonsistensi yang ada di Malaysia. Dalam hal bahasa kebangsaan saja tidak hanya ada perdebatan penggunaan istilah antara "Bahasa Melayu" dan "Bahasa Malaysia". Penggunaan kosa kata yang disebut "native" dalam Kamus Dewan ternyata tidak terjadi di masyarakat Malaysia. Penggunaan awalan, sisipan dan akhiran juga nampak inkonsisten di Bahasa Melayu Malaysia.
Kata yang dipermasalahkan oleh Cikgu Gja salah satunya adalah “merencanakan” dan “berencana”. Dalam Bahasa Indonesia dua kata tersebut mempunyai makna yang berbeda, karena awalan, sisipan dan akhiran tentunya diperlukan untuk membentuk makna lain.
Dalam Bahasa Indonesia perbedaan antara imbuhan me-...-kan dan ber- terletak pada fungsi dan maknanya: me-...-kan menunjukkan tindakan yang menyebabkan sesuatu terjadi (transitif, membutuhkan objek) dan berfokus pada pelaku atau objek tindakan. Sementara ber- sering menunjukkan keadaan memiliki sesuatu, melakukan sesuatu secara aktif, atau bertindak sebagai sesuatu (intransitif, tidak membutuhkan objek spesifik).
Jadi dalam Bahasa Indonesia makna “merencanakan” berati pelaku melakukan tindakan yang lebih pada suatu objek. Makna “berencana” berarti hanya menunjukkan pelaku sedang bertindak. Contoh lain “memainkan” berarti pelaku melakukan tindakan lebih seperti pelakon (artis / aktor) yang harus berperan, atau seorang dalang yang sedang memainkan wayang. Sedang makna “bermain” bermakna sekedarnya saja bahwa berlaku sedang bertindak.
Untuk di Indonesia, bahasa kebangsaan secara mantap dan konsisten disebut sebagai Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki urgensi sebagai alat pemersatu bangsa, bahasa resmi, lambang identitas nasional, alat komunikasi yang efektif dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pemerintahan, dan media massa. Bahasa Indonesia juga memperkuat rasa persatuan dan kesatuan di tengah berbagai kelompok etnis, keberagaman suku, agama, dan budaya.
Dengan demikian, bahasa kebangsaan memiliki peran krusial dalam menjaga keutuhan dan kemajuan suatu bangsa. Penggunaannya secara baik dan benar merupakan wujud cinta tanah air dan upaya pelestarian budaya. Bahasa Indonesia mengatasi kesenjangan komunikasi antar kelompok sosial yang berbeda, memperkuat solidaritas dan identitas nasional, serta menjaga integrasi sosial di tengah keberagaman.
Bahasa Indonesia memiliki peran resmi dalam pemerintahan, pendidikan, dan aspek kehidupan publik lainnya, memastikan keseragaman dalam komunikasi dan administrasi. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar utama dalam sistem pendidikan, memastikan akses pendidikan yang merata bagi seluruh warga negara.
Bahasa Indonesia adalah simbol persatuan yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat Indonesia, mencerminkan keunikan dan kekayaan budaya bangsa. Bahasa Indonesia memungkinkan komunikasi yang efektif dalam berbagai konteks, baik formal maupun informal, antar individu maupun kelompok.
Bahasa Indonesia menjadi wadah untuk melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya Indonesia, termasuk sastra, seni, dan tradisi. Indonesia, sebagai negara yang terbentuk dari beragam identitas etnis, linguistik, dan nasional, menjadikan bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan dan identitas nasional.
Bahasa Indonesia memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga kelangsungan dan keutuhan negara. Menurut Hymes (1974) dan konsep dalam sosiolinguistik dan antropologi, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga merupakan cerminan budaya dan identitas suatu bangsa. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menghubungkan berbagai suku dan budaya, sekaligus memperkuat rasa kebangsaan yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Sehingga bahasa sebagai simbol kekuatan dan simbol yang diwujudkan dalam sistem makna yang diwariskan secara historis oleh suatu masyarakat.
https://www.cikgushare.my/2024/02/penggunaan-mana-yang-betul-bahasa.html
Cikgu Gja seorang guru yang berusaha menjaga identitas bangsa melalui bahasanya. Wajar menurut saya dalam konteks pelajaran menggunakan bahasa baku dari bahasa kebangsaannya.
BalasHapusBetul, Betul, Betuk
Hapus