Langsung ke konten utama

Bukan Siti Nurbaya


 

 

“Hai...., Petualang Cinta!” Sapa pak Adi teman kerjaku sambil lari kecil dia mendekati.

Buaya Darat, Playboy cap 3 Durian, Arjuna Kesiangan, dan kemarin yang paling nggak aku suka disebut Bujang Lapuk. Keren begini dibilang Lapuk? Kalau dipikir sakit hati juga. Tapi aku buat santai, dan berfikir positif teman-teman bermaksut mendorongku biar cepat nikah.

Maklum juga sama teman-temanku yang memberi sebutan itu padaku. Aku sudah berumur menjelang 30 tahun dan beberapa kali gagal menyunting calon istri, itu pemicunya. Aku bujang tertua di kantor tempatku kerja. Apalagi kalau di kampung, teman sebaya sudah beristri semua, bahkan ada yang punya anak sudah besar-besar.

Pertama punya teman wanita namanya Novi, bisa kenal karena tetanggaan kost dan sering ketemu saat makan malam. Novi masih kuliah dan dia anak orang kaya. Yang aku kenal Novi anak yang manja, dia yang pertama berusaha mendekatiku. Hampir 1 tahun menjalin hubungan. Sewaktu ada kesempatan berkunjung ke rumah orang tua Novi, secara terang-terangan orang tuanya menolak aku. Orangtua Novi memandang latar belakang orangtuaku tidak sepadan. Aku justru bersyukur bisa lepas dengan Novi yang manja, toh yang berusaha mendekati duluan Novi. Bersyukur juga karena tidak jadi punya mertua yang punya pemikiran seperti orangtua Novi.

Jelang beberapa bulan, aku kembali didekati seorang wanita. Dia karyawan baru di tempat kerjaku. Saat itu Kepala Divisi Personalia ditarik ke kantor pusat. Dia Lisa namanya menggantikan sebagai Kepala Divisi Personalia yang baru. Jadi jabatan kerjanya sepadan denganku yang menjabat sebagai Kepala Divisi Umum.

Awal dekat dengan Lisa karena urusan pekerjaan saja. Divisi Umum dan Divisi Personalia paling sering terlibat dengan urusan yang sama, apalagi ruang kantor juga bersebelahan. Lisa juga seumuran denganku, jadi klop sama-sama lapuk (Upp..., kok jadi aku sendiri yang menyebut itu).

Sama seperti Novi, Lisa juga yang pertama berusaha mendekati aku. Bukanya sok keren, memang aku keren beneran kok (he he... ). Bedanya dengan Novi yang manja, Lisa ini wanita yang mandiri. Persamaannya lagi dengan Novi, hubunganku sama Lisa akhirnya juga kandas. Kali ini bukan karena orangtua Lisa. Aku sendiri yang memutuskan mundur. Seringnya berhubungan (jangan berfikir yang aneh aneh dulu ya) terutama masalah kerjaan jadi tahu watak Lisa yang kaku dan keras kepala. Aku minta mundur dan meminta juga tetap profesional dalam hubungan kerja.

Tidak ada 1 tahun selepas dengan Lisa, aku kembali menjalin hubungan dengan seorang wanita. Kali ini aku yang mendekati duluan. Maklum dia memang cantik, Evi namanya. Evi lebih cantik banget dibanding Novi maupun Lisa tentunya. Evi merupakan tetangga kost seperti Novi dulu (tapi mereka nggak saling kenal lho, sudah beda masa yaa... ). Sayang tempat kerja Evi jauh dari tempatku kerja. Evi hanya seorang staff biasa di kantornya.

Meski tempat kerja Evi jauh dari tempat kerjaku, aku sering menawarkan Evi untuk aku anter berangkat kerja. Evi selalu menolak dengan alasan kasihan saya karena memang jauh. Maksudku mengantar Evi dulu karena aku juga pengin tahu lingkungan kerja Evi seperti apa.

Suatu saat aku sengaja mengambil cuti kerja. Kesempatan itu tidak hanya aku gunakan untuk menegok bapak ibuk di kampung saja. Aku juga pengin mengantar kerja Evi dan pengin mengetahui lingkungan kerja dan teman-teman kerja Evi. Tanpa sepengetahuan Evi, aku tanya sama salah satu teman kerja Evi. Teman Evi bilang kalau Evi sudah punya pacar, dia atasan Evi sendiri. Antara percaya dan tidak percaya aku saat itu.

Meski telah mendengar tentang hal yang tidak baik tentang Evi, aku masih berusaha berhubungan (berhubungan lagi, he he) seperti biasa. Tetapi aku bertekat untuk bisa membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Hingga pada akhirnya aku sendiri mengetahui kalau Evi memang menjalin hubungan juga dengan atasannya. Aku masih berusaha tenang dan menawarkan pada Evi, pilih aku atau atasannya. Evi memilih atasannya. Saat itu aku benar-benar shock dan patah hati.

__&&&__

Lebaran Idul Fitri lagi. Momen seperti itu akhir-akhir ini sering menggangguku. Aku sering tidak nyaman dengan pertanyaan saudaraku dari keluarga besar kakek nenek. Keluarga besar kakek nenek dari bapak maupun dari ibuk sama. Mereka Paklik, Bulik dan saudara-saudara sepupu selalu menanyakan aku kapan nikah. Aku tidak punya Pakdhe dan Budhe, hanya punya Paklik dan Bulik karena bapak dan ibuk sama-sama anak pertama.

Saat sepi setelah saudara-saudara pulang, bapak dan ibuk melanjutkan apa yang ditanyakan saudara-saudara tadi. Kapan Nikah?

“Iya Yanto, betul paklik dan bulik kamu tadi bilang, kapan kamu nikah?” Deg, akhirnya bapakku sendiri yang menanyakan itu.

“Betul, kok kamu sekarang justru adem ayem” Ibuk menimpali.

Aku bingung dan malas menimpali.

“Aku kenalkan dengan seseorang ya!” Lanjut Ibuk.

“Dijodohkan buk? Kayak jaman Siti Nurbaya saja!” Jawabku dengan agak dongkol.

Keren-keren begini mau dijodohin?” Batinku masih dongkol.

“E e e... kalau dijodohkan memang seperti Siti Nurbaya!” Balas ibuk.

“Perjodohan seperti Siti Nurbaya itu kalau ada motif-motif dibelakangnya, seperti ada pemaksaan, ada motif ekonomi atau motif balas budi dan lain sebagainya” Gantian bapak menjawab.

“Bukan dijodohkan, ta’aruf” Kata ibuk.

Keren juga ibuk tahu ta’aruf” Aku hanya membatin.

“Iya, ta’aruf dulu” Bapak melanjutkan.

“Bapak ibuk tahu ta’aruf dari siapa?” Tanyaku sambil senyum masam.

“Bapak ibuk kan rutin mengikuti kajian mingguan di Musholla” Jawab ibuk.

“Intinya, penilaian seseorang itu kan lebih obyektif dari orang ketiga. Apalagi seseorang itu tidak tahu atau tidak sadar kalau lagi diperhatikan” Terang bapak.

“Seperti kamu, menjalin hubungan beberapa tahun, tidak menjamin kamu mengetahui sifat aslinya kan? Karena dalam berpacaran tentu akan saling menyembunyikan sifat buruk dari kalian” Mak jleb, bapak seperti menyindir hubunganku dengan Evi dulu.

“Memilih jodoh itu yang terpenting adalah agamanya / akhlaknya. Ini orang ketiganya bapak ibuk sendiri lho, apa kurang percaya sama bapak ibuk?” Lanjut bapak.

Aku bukannya tidak tahu, hanya merasa bapak ibuk mengingatkan saja. Aku jadi pasrah sama bapak ibuk. Bapak ibuk tentunya ingin aku yang terbaik. Tidak mungkin dong bapak ibuk menjerumuskan aku.

__&&&__

Aku nikah euy (emoticon senyum 😊😊) ......

Teman-teman kantor heboh aku kasih undangan pernikahanku. Mereka heran karena tahunya aku masih patah hati karena Evi. Aku bilang terus terang. Aku terima di jodohkan oleh bapak ibuk.

“Sama Siti Nurbaya?” Ledek pak Adi.

“Apa kalau dijodohkan itu seperti Siti Nurbaya? Lagian memang lain, bukan dijodohkan melainkan melalu proses ta’aruf” Kilahku.

“Apa bedanya?” Pak Adi masih ngeyel atau memang bener nggak tahu.

“Ya jelas bedalah....” Jawabku agak ketus tapi malas debat dan menjelaskan.

__&&&__

 

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Nang Nayoko Aji, terlahir dengan nama NAYOKO AJI di Blora Jawa Tengah nama panggilan Aji, sewaktu kecil dipanggil Nanang. Sering karena banyak teman yang namanya juga Aji jadi dipanggil Nayoko. Masa kecil sampai Lulus SMA tinggal bersama orang tua di Kelurahan yang juga merupakan Kota Kecamatan Ngawen Kabupaten BLORA. Menyelesaikan pendidikan TK, SD, SMP di Ngawen, SMA di SMAN 1 Blora tahun 1990, DIII Teknik Mesin di Universitas Diponegoro Semarang tahun 1994, S1 Teknik Mesin di Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 1997. Berbagai pengalaman kerja dijalani mulai dari mengajar di STM BHINNEKA Patebon Kendal tahun ajaran 1998/1999. Staff Umum di Perusahaan Tambak dan Pembekuan Udang PT Seafer General Foods di KENDAL tahun 1999 – 2001. Mengelola Rental dan Pelatihan Komputer di Tembalang SEMARANG tahun 2002 – 2005. Staff sampai menduduki posisi Supervisor Regional Distribution Center / Kepala Gudang Wilayah di PT Columbindo Perdana / Columbia Cash and Credit tahun 2005 sampai PT tersebut bermasalah resign tanggal 1 April 2019.

Komentar